CerpenSastra

Bungsu

Bungsu
Oleh: Evamuzy

Kau di posisi mana di keluargamu? Anak sulung? Anak tengah atau menjadi yang terakhir lahir? Iya, bungsu, mereka menyebutnya begitu. Seperti aku, Aruni. Bungsu dari empat bersaudara yang lahir dari keluarga sederhana.

Kakak pertamaku perempuan. Nania namanya. Perempuan anggun dan dewasa yang lebih sering mengalah kepada kami. Menjadi sulung membuat ia paling paham dengan keadaan rumah, Ayah, Ibu dan adik-adiknya. Hobinya adalah mendandaniku dengan bedak tabur, pensil alis dan lipstik merah muda yang ia punya. Menyuruhku duduk di kursi kayu tanpa sandaran lalu bergaya memotret ke arahku dengan kamera dari bungkus rokok buatannya. Kemudian bergegas ke meja yang tak jauh dari kami, mulai melukis wajahku di atas kertas putih bergaris tipis, sisa buku tulis sekolahnya.

“Selesai. Ini foto pesananmu, Nona.” Lukisannya sangat bagus dan itulah keahliannya.

Lalu ada Bang Ahmad. Anak kedua. Anak laki-laki Ayah-Ibu satu-satunya. Apa itu menjadikannya paling dibanggakan? Keliru, Ayah-Ibu memberikan kasih sayang mereka sama rata. Atau, apa dia menjadi besar kepala karena satu-satunya pangeran di keluarga kami? Tidak, dia adalah laki-laki yang sadar tanggung jawab atas ketiga saudaranya. Menjaga para putri istana sederhana kami.

“Adek, coba tebak, Abang bawa apa?” Sepulang sekolah ia menghampiriku di teras rumah sambil merogoh saku celana seragam sekolahnya.

“Abang bawa cokelat lagi seperti kemarin?” tanyaku.

“Benar sekali. Ini untukmu, Sayang.”

Kuraih sebatang cokelat paling lezat merek termahal kala itu dengan wajah berbinar. “Terima kasih, Abang.”

“Abang nggak jajan lagi, ya?” sahut Ibu dari dalam.

“Yang penting Adek senang, Bu.” Sesungging senyum menghiasi wajah tampan Bang Ahmad.

Masih darinya, aku tahu cara bermain layang-layang. Cara sederhana membuatnya, memilih bahan, kayu yang tepat, benang yang kuat serta bagaimana cara menarik ulur tali benang saat layang-layang terbang di angkasa.

Yang ketiga adalah Kak Dinda. Putri cantik Ayah-Ibu yang lahir dua setengah tahun sebelum aku. Kakak atasku. Putri yang kelahirannya ditunggu-tunggu setelah Ayah-Ibu tak mendengar tangis bayi selama delapan tahun semenjak kelahiran Bang Ahmad. Gadis cantik yang memilih bergaya maskulin saat keinginannya untuk mondok di pesantren ditolak Ayah-Ibu. Apalagi kalau bukan karena alasan ekonomi.

Cita-citanya dulu adalah menjadi seorang mubalig. Suaranya melantunkan firman-firman Allah sangat indah. Dulu aku selalu bangga ketika ia menjadi qori di peringatan hari besar Islam di sekolah kami, bahkan ia pernah juara lomba Pildacil sewaktu diniyah.

Namun mondok di pesantren bahkan sampai di luar kota jelas tak sedikit biayanya. Kemudian karena rasa kecewanya itu, ia tumbuh menjadi gadis berwatak sedikit keras. Apalagi jika ada yang sengaja merobek harga dirinya.

Pernah satu waktu. Saat kami tengah asyik bermain bersama di lapangan dekat rumah, seorang anak laki-laki sengaja memanggilnya dengan nama panggilan Ayah. Sontak membuatnya naik darah, raut mukanya memerah dengan sorot mata tajam siap menikam. Ia berlari mengambil sebongkah batu bata merah yang tercecer di atas tanah lalu mengejar bocah laki-laki itu dengan penuh amarah.

“Kak Din, sudah! Biarin. Nanti kita bilang saja kepada Ayah.” Suaraku tak dihiraukannya. Dengan napas tersengal-sengal dia tetap mengejar si bocah yang mulai ketakutan itu.

Hingga setelah jarak mereka semakin dekat, bongkahan yang sedari tadi erat di genggamanya, melayang ke arah kepala si bocah.

“Aw!” pekik bocah itu lalu terjatuh di atas tanah kering.

“Ayo, pulang!” Tangan Kak Dinda meraih kelima jemariku. Dengan wajah masih merah namun tak semenyala sebelumnya.

***

“Saya tak mau tahu. Pokoknya kalian harus tanggung jawab. Lihat anak saya! Ini akibat kelakuan anak kalian. Keluarga macam apa ini, anak-anaknya tak punya aturan. Dan kau, Dinda! Anak perempuan kok seperti ini,” cerca seorang ibu dengan menggandeng putranya. Kulihat si bocah laki-laki itu meringis kesakitan, memegangi kepala bagian belakangnya yang berdarah.

Ibu panik, raut wajahnya semakin pias setelah berkali-kali telinganya mendengar umpatan dari mulut ibu si bocah.

Aku tahu, Ayah sebenarnya marah. Tapi ia berusaha menjaga diri setenang mungkin. Beberapa kali kulihat ia menarik napas panjang. Memang jarang sekali kutemukan amarah pada dirinya seumur hidupku.

“Tanyakan saja apa yang telah dilakukan anak Ibu,” suara Kak Dinda di tengah suasana yang semakin tegang.

Masalah selesai setelah hampir satu bulan Ayah-Ibu bertanggung jawab atas apa yang telah Kak Dinda lakukan. Mengurus pengobatan si bocah laki-laki itu.

***

Sikap tegas Kak Dinda juga selalu ia gunakan untuk melindungiku di sekolah.

“Jangan gangguin Arun. Kakaknya galak kayak singa,” cegah bocah laki-laki saat mendengar temannya berniat mengerjaiku.

Meski umurku dan Kak Dinda selisih dua tahun lebih. Namun karena sikap iriku saat melihat Kakak berseragam, membuatku merengek kepada Ayah-Ibu untuk segera bersekolah juga. “Aku mau ikut Kak Din, Ayah.”

Rengekan si bungsu adalah kelemahan Ayah-Ibu. Kalah telak, keduanya menuruti keinginanku bersekolah satu tahun di bawah Kak Dinda. Padahal saat itu umurku belum memenuhi syarat masuk sekolah dasar. Umurku yang terlalu kecil membuatku selalu menjadi bungsu di kelas sejak SD sampai di bangku SMA.

Paling kecil, manja dan cengeng di kelas menjadikanku bahan paling asyik untuk di-bully. Akan ada tawa puas kala hujan deras berkejaran di wajah piasku akibat ulah usil mereka.

“Tadi kursi Adek diludahi si Purba, Kak Din.” Aku mengadu kepadanya di jam pulang sekolah setelah berlari ke depan kelasnya. Saat itu kami sudah duduk di bangku SMP. Aku menjadi adik kelas Kak Dinda yang berhasil menyandang Waka OSIS dengan label killer-nya.

“Aku Arun. Adiknya Kak Din, wakil ketua OSIS kita.” Bergitu kira-kira caraku memperkenalkan diri. Itung-itung numpang tenar, lha. Karena siapalah aku. Cuma si putri malu. Sekali sentuh air mata langsung luruh, tak ada kuat-kuatnya.

Keesokan harinya kulihat Purba, siswa pindahan dari Medan itu masuk kelas dengan wajah pucat dan mata merah. Kudengar dari teman laki-laki lainnya bahwa Kak Dinda baru saja memberi pelajaran padanya. Memberi kalimat ultimatum dengan meremas kerah baju Purba di samping kantin sekolah.

***

Lulus SMA aku memutuskan untuk pergi ke luar kota. Mencari pengalaman dan rezeki untuk biaya kuliah. Merasa sudah besar dan siap hidup mandiri, juga karena tidak ingin menyusahkan Ayah-Ibu untuk cita-cita yang kupunya. Kuliah.

Wajah-wajah orang terkasih jelas tak percaya. Tak mungkin aku yang biasa sangat manja dan cengeng bahkan tidur pun masih dengan Ibu akan dilepas dan berjalan sendiri di kota orang.

“Jangan ngawur, Dek. Sudah di sini saja sama kami.” Kak Nania yang saat itu sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra kecil yang tampan mencegah dengan lembut.

“Abang sayang padamu. Tapi tidak yakin kau akan aman di luar sana. Apalagi jauh dari kami,” Bang Ahmad menambahi.

Sementara Kak Dinda yang paling dekat denganku memilih tak ambil suara. Rasanya, isi kepalanya sudah terwakili oleh pendapat kedua kakak dan kalimat Ayah-Ibu sebelumnya.

Bukan bungsu namanya kalau tidak jadi pemenang. Dengan jurus rengekan dan mogok makan seharian ditambah berhari-hari mengurung diri dalam kamar, akhirnya mereka mengalah. Mengizinkanku belajar menapaki hidup di kota orang. Pergi ke salah satu kota besar yang terkenal dengan kehidupannya yang kejam. Kota yang para jiwa raga penghuninya menghalalkan segala cara untuk bertahan menghirup udara, seteguk air serta sesuap gizi masuk ke badan mereka.

“Di sini keras, Kak. Tak boleh lengah sedikit saja. Samar. Yang kita anggap putih bisa jadi hitam bahkan lebih legam dari itu,” ceritaku di satu kesempatan menelepon Kak Dinda.

Aku bekerja menjadi seorang pramusaji di sebuah restoran mewah. Tinggal di sebuah indekos yang tak jauh dari tempat kerja. Berharap hasil bekerja selama satu tahun di sana akan cukup untuk biaya awal masuk kuliah. Lalu aku akan pulang dan memilih salah satu universitas di kota kecilku agar tetap bisa bersama mereka, wajah-wajah orang terkasih.

Di satu hari. Di bulan keenam bekerja. Aku berlari cepat menuju kamar kos. Berniat menelepon Kak Dinda atau yang lainnya untuk menceritakan musibah yang telah menimpaku. Duduk di satu sudut kamar indekos dengan linangan bening yang masih menggenang di pelupuk mata. Mengaktifkan gawai lalu mengetuk deretan angka kontak Kak Dinda.

“Kak Din. Semua tabunganku raib dibawa orang yang baru aku kenal seminggu ini.” Isakku semakin memburu setelah kudengar ia membalas salamku.

“Innalilahi … kok bisa, Dek?”

“Iya. Aku kenal dia seminggu ini. Kupikir orangnya baik. Dia minta tolong untuk pinjam uangku dan berjanji akan mengembalikannya segera. Aku percaya. Lalu aku dengar dari teman kerjaku kalau dia juga pernah menjadi korban penipuan uang dengan identitas orang yang sama,” terangku sambil mencoba mengatur diri.

“Ya Allah. Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja. Sebaiknya kamu pulang dulu, Dek. Masih pegang uang? Kalau tidak, Kakak transfer untuk biaya naik kereta, ya.”

“Makasih, Kak. Tapi Arun masih punya uang pegangan di dompet. Untuk beli tiket kereta dan makan sampai besok, insyaallah masih cukup.”

Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk kembali hidup bersama mereka. Merasakan tangan dan kasih sayang yang teramat melindungi si bungsunya. Bak telur yang dikelilingi induk dan anak ayam dewasa lainnnya. Dijaga jangan sampai pecah sebelum waktunya.

Setelah keadaan diri mulai tenang, aku mulai menata hidup kembali. Menerima tawaran menjadi guru honorer dari seorang teman dengan bekal ijazah SMA. Rencana kuliah? Masih dong. Aku bukan gadis yang mudah menyerah. Dari gaji secukupnya sebagai seorang guru honorer dan uang hasil menerima les privat di dua rumah gedongan yang membutuhkan teman belajar bagi anak-anaknya, biaya awal kuliah akhirnya tergenggam di tangan.

“Adek berangkat daftar kuliah dulu, ya, Bu.” Kecupan manis mendarat di pipi layu Ibu. Di balas senyum tak kalah manis dan beberapa wejangan dari bibir yang tak pernah mengeluarkan kata kasar itu.

Sedangkan Ayah sedang bekerja sebagai buruh di salah satu proyek sarana transportasi pemerintah. Semalam beliau telah memberikan kalimat sederhana namun penuh makna.

“Kuliah itu mencari ilmu. Jadi tak perlu membuatmu pongah dan besar kepala, putriku. Tujuan menjadi orang berilmu bukan untuk merendahkan yang lainnya. Semakin tinggi ilmu harusnya semakin rendah hatinya jadi setinggi apa pun ilmumu kelak, tetaplah hargai semua yang ada di hadapanmu. Kasihi orang-orang dengan ilmu yang kau punya. Semoga kelak kau menjadi orang yang bermanfaat.”

“Baik. Insyaallah, Ayah.”

Empat tahun mengalami kerasnya menjadi seorang mahasiswa. Berkejar-kejaran dengan waktu, membagi pikiran dan tenaga untuk mengajar, bekerja dan kuliah. Akhirnya kutarik napas lega seperti telah kalahkan satu orang musuh dalam peperangan ketika ketua sidang mengetuk palu. Perjuangan keras tak sia-sia. Skripsi yang begitu menguras pikiran dan uang diganjar kata LULUS.

“Alhamdulillah ….” Tangis bahagia mengisi ruang sidang bersama air mata haru mahasiswa seperjuangan.

“Abang, minggu depan bisa pulang? Arun wisuda.”

“Duh, maaf, Sayang. Fadil sakit dan tidak mungkin kita melakukan perjalanan jauh. Takut tambah parah. Abang akan kirimkan kado untuk hadiah wisudamu,” suara Bang Ahmad terdengar menyesal. Fadil anak sulungnya memang mudah sakit kalau banyak terkena angin.

“Kak Nania datang, yah?”

“Mas Fajar keluar kota, Sayang. Kak Nan nggak mungkin pergi jauh sendirian. Adek pengin hadiah apa?” jawaban si sulung tak jauh berbeda. Mengecewakan. Setahun lalu suaminya pindah tugas ke luar Jawa. Mau tidak mau ia harus ikut juga.

Kak Dinda? Ia lebih tak mungkin. Baru seminggu lalu dia melahirkan putri pertamanya di luar kota. Satu tahun lalu Kak Dinda diboyong suaminya yang memang orang sana.

Jadilah aku di sini. Di salah satu kursi wisudawati yang terbungkus kain putih dengan renda emas yang memberi kesan mewah dan sakral, sesakral perhelatannya.

Beberapa meter di belakang Ayah-Ibu duduk di deretan kursi pendamping wisuda. Kebanggaan menjadi wisudawati terbaik tahun ini nyatanya terasa hambar karena tak adanya mereka, para saudara sekandung. Mereka yang dibesarkan oleh keringat yang sama, belaian tangan penuh kasih yang sama.

Hidup memang berubah. Satu per satu meninggalkan rumah. Menyisakan si bungsu yang sedang mencari arah. Yang dulu menjadi prioritas, sekarang dilepas. Tersebab keadaan tak lagi sama, yang terakhir lahir dengan tertatih belajar kehidupan hingga menemui titik mahir. (*)

 

Evamuzy, gadis pemilik sepeda silver. Setia dengan sepedanya karena memang tak bisa nyetir motor.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

0
Tags

Tulisan terkait

Close