CerpenTantangan Lokit 6

Ketika Cinta Harus Memilih

Cerpen Terpilih ke-14 pada #Tantangan_Lokit_6

Ketika Cinta Harus Memilih
Oleh: Feni Lanika
Cerpen Terpilih ke-14 pada #Tantangan_Lokit_6

“Kenziooo …!” teriakan yang memekakkan seantero sekolah, suara cempreng dibumbui dengan nada manja membuat siapa pun yang mendengar akan mual seketika.

“Kenziooo …! Wait me baby.” Pemuda yang bernama Kenzio hanya menatap malas gadis di hadapannya.

“Nana jangan teriak-teriak,” ucap Kenzio memperingatkan sang kekasih. Ya, Nathasa adalah kekasih Kenzio Atmaja. Namun suara cemprengnya itu membuat semua orang kesal meski Nathasa memiliki wajah di atas rata-rata.

“Hehehe, Nana takut Zio enggak denger.”

Kenzio hanya terkekeh, mana mungkin ia tidak mendengar teriakan yang mampu membuat gempa bumi setempat.

“Ayo makan!” seru Nathasa senang karena jam istirahat adalah doinya yang kedua setelah Kenzio.

“Kalau makan aja semangat ya, Na.”

“Wajib itu, coba bayangin Zio enggak makan terus mati deh.”

“Kalo Zio mati Nana nangis?”

“Enggak, siapa bilang?”

“Gue barusan.”

“Ish, kok gue-gue lagi sih.”

Nathasa langsung berlari begitu sampai di depan pintu kantin meninggalkan Kenzio yang tengah berjalan menuju stand makanan.

“Na, nanti pulang duluan aja, Zio mau ada acara.”

Nathasa hanya mengangguk baginya tidak apa pulang sendiri toh sebelum pacaran Nathasa pulang sendiri.

***

“Yo, entar malam ada reuni lu ikut?”

Kenzio menatap Dito heran, “Reuni? Reuni apa?”

“Yaelah, Yo. Makanya jangan game terus, entar malam ada reuni anak SMP. Entar juga katanya ada first love lu.”

Uhuk! Uhuk!

Kenzio yang sedang duduk seketika tersedak dengan air liurnya sendiri, Dito yang melihatnya merasa heran, apa sahabatnya satu ini belum move on atau gimana tapi Zio kan sudah sama Nathasa.

“Yo, lu kenapa?”

Zio menatap satu per satu temannya yang kini menatapnya penuh selidik.

“Gak kenapa-kenapa, lebay lu pada.”

Semua tertawa kecuali Dito yang merasa janggal akan tingkah Zio, ia tahu ada yang ditutup-tutupi.

“Lu kenapa, Dit, natap Zio segitunya?”

Dito hanya menggeleng melanjutkan obrolan bersama temannya. Ia akan mencari tahu rahasia Zio .

Di sinilah Zio berada, sebuah cafe dengan nuansa klasik, sudah ada beberapa teman-teman SMP-nya di sini. Namun orang yang ditunggu-tunggu Zio belum menampakkan batang hidungnya, Dito yang melihat gelagat aneh dari Zio langsung mengerti siapa yang Zio tunggu.

“Hei, apa kabar?”

Nah! Zio langsung semringah, benar tebakan Dito. Zio menunggu Zahra, mantan sekaligus first love-nya. Dito merasa kasihan melihat Nathasa yang hanya menjadi pelampiasan Zio.

“Kenzi, apa kabar?”

“Baik, Ra. Kamu apa kabar?”

What! Kamu? Dito langsung tersulut emosi namun ia masih tahan karena tidak ingin acara reuni berganti acara boxing.

Pukul 22:30 semua sudah memilih pulang dan dengan tidak tahu dirinya, Zio menawarkan memberi tumpangan kepada Zahra meninggalkan Dito yang menatapnya geram.

“Kenzi, Senin depan aku udah resmi jadi siswa di sekolah kamu, loh.”

“Beneran?”

“Iya dong, kan aku mau bareng kamu terus.”

Zio merasa dunianya hidup kembali tanpa berfikir telah ada Nathasa yang menemaninya di saat terpuruk.

***

Pukul 6 pagi Nathasa sudah kembali segar dengan seragam SMA-nya, hari ini adalah anniversary mereka yang ke-2 tahun, semua berjalan dengan cepat padahal Nathasa masih merasakan betapa gilanya dulu ia mengejar seorang Kenzio Atmaja.

“Pagi, Bunda,” sapanya riang, ia langsung mencomot roti yang telah di olesi dengan selai.

“Seneng banget, Na.”

“Iya dong, Bunda, hari ini anniversary Nana sama Zio 2 tahun hehehe…,” ucapnya penuh semangat. Setelah dirasa cukup sarapan, Nathasa memilih berangkat ke sekolah. Berharap akan ada kejutan yang Zio berikan untuknya. Sedangkan Zio, ia sama sekali tak ingat akan hari ini, ia hanya ingat hari ini dan seterusnya akan ada sabda yang menemaninya.

“Ziooo! Ziyooo….”

Zio hanya bergeming seolah suara Nathasa hanya angin yang berlalu, Nathasa yang berfikir mungkin Zio bakal ngasih kejutan pun tidak ambil pusing, ia memilih diam menatap Zio yang tengah asyik dengan handphone-nya.

“Zio, kamu tahu gak hari ini …,” ucapan Nathasa berhenti di udara melihat Zio yang berlalu meninggalkannya sendiri di taman. Ah ia lupa, Zio kan sedang mengerjainya.

Nathasa senyum-senyum sendiri menatap Zio yang kini berjalan sambil sesekali terkekeh menatap handphone.

Nathasa memasuki kelasnya yang sudah kosong, mungkin teman-temannya sudah pulang, ia tidak pulang karena ingin melihat Zio yang sedang latihan.

Di sinilah Nathasa berada, tribun lapangan basket di sana terlihat Zio tengah men-dribel bola lalu men-shot dan masuk, Nathasa kegirangan Zio yang menatap tingkah Nathasa hanya terkekeh, itulah Nathasa gadis imut yang dulu mengejarnya seperti orang gila, membuat Zio tertawa sendiri.

Saat Zio hendak menghampiri Nathasa tiba-tiba handphone di genggamannya berdering memunculkan nama Zahra, setelahnya Zio langsung berlari tanpa memedulikan Nathasa yang memanggilnya.

Zio melajukan motornya tanpa aturan. Tadi Zahra menelpon, mengatakan ia tersesat karena sudah lama tidak berjalan di Bandung. Sampai di tempat yang telah Zahra beri, Zio dapat melihat seorang gadis terduduk sambil terisak.

“Zahra!” Zio langsung memeluk tubuh Zahra yang dingin, sarat akan ketakutan.

“Kenzi, aku takut,” cicitnya disertai isakan. Zio langsung memeluk erat, menyalurkan rasa aman pada Zahra.

“Kita pulang, ya.”

Zahra mengangguk, membuat Zio merasa tak tega melihat gadisnya ketakutan seperti ini.

Sedangkan Nathasa masih menunggu Zio di tribun basket padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, ia takut ketika ia pergi pulang Zio datang dengan kejutan ia tidak mau membuat Zio kecewa. Sampai pukul 9 malam pun Zio tidak menampakkan batang hidungnya membuat Nathasa menggigit jari ketakutan pasalnya di tribun hanya ada cahaya remang dan dia sendiri di sini.

“Zio kamu di mana?”

Pecah sudah tangis Nathasa, ia sangat ketakutan ingin menelpon Zio tidak diangkat, menelpon Bunda tiba-tiba baterainya habis.

Ia masih menangis ketakutan sampai tiba-tiba sebuah jaket terpasang di tubuhnya.

“Zio aku pikir—”

“Gua Dito, bukan Zio.”

Nathasa yang terkejut hanya mampu diam. Ia pikir tadi Zio, ternyata bukan. Ada rasa kecewa di hatinya, tapi ia juga merasa tenang setidaknya ada Dito yang menemani.

“Lu gak usah nunggu Zio, ayo pulang.”

Nathasa hendak menolak, tapi mengingat ini sudah malam tak mungkin ia menunggu Zio lagi. Akhirnya ia mengangguk mengikuti langkah Dito menuju motor yang terparkir di gerbang.

“Lo, kok, tahu gua di sini?”

“Tadi gua mau ke kelas ambil buku, tapi gua liat ada anak kuntilanak di tribun basket nangis ketakutan, gua tolongin dah tuh. Gua baik, kan?”

“Anak kuntilanak? Maksud lo, gue?”

“Nah! Gua gak ada bilang lu ya, Na. Tapi lu sendiri.”

Dito terkekeh melihat wajah Nathasa yang menahan amarah. Lucu, batinnya.

***

“Na, kemarin Zio ketiduran maaf, ya.”

Bohong! Zio telah berbohong. Dito yang mendengar ucapan Zio, mengepalkan tangannya. Ingin menghancurkan wajah bangsat Zio.

“Iya gak papa, kok, tapi nanti malam kita nonton konser di karnaval, ya. Nana udah beli 2 tiket.”

Zio terdiam cukup lama, bagaimana ini, dia sudah memiliki janji bersama Zahra tidak mungkin ia batalkan.

“Kayaknya aku gak bisa Na, besok malam aja gimana?”

“Yah! Sayang tiketnya.”

“Sayang tiketnya atau sayang akunya?”

“Ya, kamulah.”

Nathasa sebenarnya merasa kecewa sudah dua hari ini Zio berubah drastis seolah menganggap Nathasa bukan siapa-siapa.

“Na, kok melamun?’

“Ah, gak apa, kok.”

Dito dapat menangkap raut kecewa Nathasa, ia hanya mengehela napas pelan, menetralkan emosi yang telah sampai di ubun-ubun.

***

“Bunda, Nana pergi dulu ke karnaval, ya.”

“Iya, pulang jangan malam-malam.”

Nathasa hanya mengangguk. Ia putuskan menonton konser sendiri, daripada tiketnya hangus lebih baik ia gunakan meskipun serasa jomblo.

Sesampainya di konser ia dapat melihat banyak pasangan seusianya berjalan berdua, ia menghela napas memaklumi kesibukan Zio akhir-akhir ini, hingga pasangan di hadapannya menarik perhatian Nathasa, dari belakang ia seperti mengenal gestur cowok di hadapannya seperti … ah, tidak mungkin. Tapi semua tanda-tanyanya terbayar ketika pasangan itu berbalik ke arahnya.

“Zi—zio.”

Zio langsung melepaskan genggaman tangannya bersama Zahra, di hadapannya ada Nathasa tengah menatapnya dengan air mata yang menggenang. Zio merasa bersalah sekarang, tapi semua sudah terlambat.

“Zio kok jahat, Zio kok tega? Nana salah apa?”

“Na, ini gak kayak yang kamu pikirkan!”

“Emang apa yang Nana pikirkan?”

Skakmat, Zio bergeming menatap Nathasa yang masih menangis. Sedangkan Zahra sudah pergi entah ke mana. Ia sudah tahu dari Dito bahwa Zio sudah memiliki kekasih, tapi egonya lebih tinggi, toh Zio sendiri yang memulai.

“Dia siapa?”

“Di—dia … Zahra.”

“Mantan kamu dulu?”

Zio mengangguk, tak berani menatap mata Nathasa.

First love lebih tepatnya,” lanjut Nathasa lagi. Ia tahu masalah Zahra yang sudah kembali bersama Zio melalui Dito. Awalnya Dito bungkam, tapi setelah Nathasa menyodorkan foto Zio dan Zahra yang tengah duduk mesra di sebuah cafe, Dito buka mulut.

“Na, aku gak bermaksud—”

“Nana gak pernah maksa Zio buat lupain masa lalu, Nana gak pernah nuntut supaya jadi prioritas Zio, karena bagaimanapun masa lalu adalah bagian cerita Zio dan bukan hanya Nana yang menjadi kepentingan Zio. Tapi tak bisakah Zio menempatkan di mana masa lalu di mana masa sekarang?”

Zio diam menunggu kalimat yang akan diucapkan Nathasa.

“Selama ini Nana gak pernah minta Zio selalu ada buat Nana, memang dari awal ini salah, maaf Zio.”

“Kamu gak salah, Na. Aku yang salahjj—”

“Aku salah, terlalu memaksa hatimu, Zio. Ini risiko jika aku yang mengejar.  Aku lelah, aku capek dan tanpa kamu sadari aku sudah berhenti Yo, aku berhenti.”

“Gak! Enggak! Kamu gak boleh berhenti!” Zio panik, ia tak mau berpisah dengan Nathasa.

“Kita selesai, Nana pamit.”

Nathasa langsung berlari meninggalkan Zio yang merutuki kesalahannya. Hanya karena cinta pertama, ia mengorbankan gadis sempurna seperti Nathasa. Sungguh, ia menyesal. Ia ingin Nathasanya kembali.

“Jaga apa yang lo punya saat ini, karena lo bakal ngerasain kehilangan … saat kepunyaan lo pergi.”(*)

Feni Lanika, lahir pada tanggal 20 februari 2000, tinggal di kota Medan Sumatera Utara, sekarang tengah mengenyam pendidikan di salah satu universitas swasta.

Tantangan Lokit 6 adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakan di grup FB KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

Tags

Tulisan terkait

Close