CerpenTantangan Lokit 6

First Love Failure 

Cerpen Terpilih ke-17 pada #Tantangan_Lokit_6

First Love Failure 
Oleh: Aldalia Aeri Cindhy
Cerpen Terpilih ke-17 pada #Tantangan_Lokit_6

“Cepat berjanjilah bahwa kau akan menikahiku!” gadis kecil berparas imut itu mengulurkan tangannya dengan polos pada anak laki-laki berusia 3 tahun lebih tua di hadapannya.

“Tidak bisa!”

“Kenapa?” raut gadis kecil itu terlihat muram.

“Menikah itu untuk orang dewasa yang saling mencintai,” kening anak laki-laki itu berkerut samar.

“Maka cintailah aku saat kita dewasa, lalu kita akan menikah!” gadis kecil itu ngotot dengan keinginannya.

Anak laki-laki itu mengembuskan napas lelah. “Baiklah. Boleh saja!”

“Berjanjilah?” gadis kecil bernama Aeris itu menyodorkan jari kelikingnya dengan senang pada Fabio.

“Aku berjanji!” Fabio menautkan jari kelikingnya pada jari kelingking Aeris.

 

***

 

Aeris mengembuskan napas panjang. Hari ini, tepat 5 tahun cinta pertamanya pergi. Setelah lulus SMA, Fabio memilih melanjutkan kuliah di luar negeri. Gadis berusia 21 tahun itu tampak malas mencorat-coret buku sketsanya. Padahal pesanan gaun pengantin di butik milik tantenya lumayan ramai.

“Aduh, hari ini panas banget!” Keyra, sahabat Aeris masuk ke dalam ruangan Aeris tanpa mengetuk pintu dan langsung meminum segelas es teh milik Aeris sampai habis tak tersisa.

“Ah, lega,” ucapnya menirukan iklan produk minuman di TV.

“Seger banget ya, Key!” Aeris menatap Keyra tidak suka karena menghabiskan minumannya.

“Hehehe, banget!” jawab Keyra tanpa dosa. “Eh Ai, kamu dapat undangan dari Diana gak?”

Kening Aeris berkerut, “Rosdiana maksudmu?”

Keyra mengangguk, “Aku gak nyangka kalau dia mau nikah. Padahal saat kuliah dia gak pernah keliatan gandeng cowok.” Keyra mencomot pisang goreng yang tampak masih mengepul. Rasanya enak, apalagi itu pisang kepok.

“Aku juga gak nyangka,” Aeris mengangkat bahunya tidak peduli.

“Terus kamu apa kabar?”

“Kabarku baik,” jawab Aeris mengabaikan maksud pertanyaan Keyra.

“Maksudku bukan itu,” Keyra memasukan pisang goreng terakhir ke mulutnya. “Kamu masih nungguin dia?”

“Dia siapa?” lagi-lagi Aeris pura-pura tidak tahu.

“Cinta pertamamu itu. Siapa dia? Aduh, aku kok lupa ya!” Keyra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Aeris mengembuskan napas lelah. “Maksudmu Fabio?”

“Iya itu. Kamu masih nungguin dia?”

Aeris mengangguk. Dia masih memegang janji Fabio yang akan menikahinya saat ia kembali dari Inggris. Maka dari itu, ia rela menunggu selama 5 tahun meskipun Fabio tidak pernah memberi kabar. Terdengar bodoh memang. Tapi Aeris yakin ia akan berakhir dengan cinta pertamanya, Fabio.

“Dari pada kamu nunggu Fabio. Lebih baik kamu sama siapa itu, yang punya bengkel mobil di depan?”

“Maksudmu Kanguru?”

“Ish, apa itu Kanguru? Dia itu punya nama yang bagus, Alvaro!”

“Tuh kamu inget namanya,” decak Aeris kesal saat mengingat Alvaro. Menurutnya, Alvaro itu lelaki paling menyebalkan yang pernah Tuhan ciptakan.

“Alvaro itu ganteng, punya usaha sendiri. Dan yang paling penting. Dia cinta sama kamu. Gak kayak Fabio. Bilang cinta aja gak pernah,” ucap Keyra membuat mood Aeris yang sudah buruk menjadi semakin buruk.

“Udahlah Key, jangan bahas masalah ini lagi!” desah Aeris menahan kekesalannya. Ia paling sensitif jika berbicara tentang Fabio. Bukan sensitif sebenarnya, tapi karena ia tidak tahan memendam rindu teramat dalam pada lelaki itu.

“Hehehe, sorry!”

“Halo ciwi-ciwi cantik!” Aeris memutar bola matanya jengah melihat Alvaro yang masuk ke dalam ruangannya.

“Halo tampan!” balas Keyra senang.

Alvaro meletakkan 2 kaleng Coca Cola dingin dan sekotak pizza di meja Aeris. Dia paling tahu makanan kesukaan gadis pujaannya itu.

“Wah, thanks banget ya Roo. Kamu tahu aja kalau aku lagi lapar.” Keyra langsung membuka kotak itu lantas mengambil sepotong pizza.

“Itu kan buat Ai!” desah Alvaro karena Keyra memakan pizza yang ia beli khusus untuk Aeris.

“Alah, kamu pelit amat!” cibir Keyra.

Alvaro menatap Aeris yang terlihat tidak bersemangat. “Kenapa lagi, Sayang? Kamu marah ya karena pizza-mu dimakan Keyra?”

“Sayang, sayang kepalamu peyang!” jawab Aeris ketus. Alvaro malah terkekeh mendengarnya.

“Walaupun jutek, kamu tetap cantik kok. Kamu keturunan Arab, ya?”

“Nggak,” jawab Aeris malas.

Keyra tersenyum geli melihat keduanya. Alvaro pasti menggoda Aeris lagi.

“Turunan India?”

“Nggak,”

“Cina?”

“Enggak Alvaro,” jawab Aeris kesal.

“Berarti kamu turunan masa depan aku!” Alvaro menaik turunkan alisnya membuat Aeris kesal dan melempar sekaleng cola tepat mengenai kepala Alvaro.

 

***

 

Bulan Desember, bulan yang terkenal dengan curah hujannya yang tinggi. Hampir setip hari turun hujan. Aeris masih bertahan di depan butik menunggu hujan reda. Ia tidak bisa pulang karena membawa motor ke butik dan ia lupa membawa jas hujan.

“Aeris pujaan hatinya Abang Alvaro!”

Aeris berdecak mendengar suara itu. “Kanguru idiot!” desisnya.

Sementara Alvaro tersenyum senang melihat Aeris berdiri di depan pintu butik menunggu hujan reda. Ia melipat payungnya lalu berdiri di samping gadis itu.

“Pulang bareng yuk, Ai?” tawar Alvaro karena ia membawa mobil.

“Nggak mau!” jawab Aeris ketus. Padahal ia sudah terang-terangan menolak Alvaro. Tapi lelaki itu sepertinya tidak pernah menyerah mendekatinya.

“Udah malam loh, dingin lagi!” Alvaro memeluk tubuhnya sendiri karena udara malam ini memang terasa lebih dingin dari pada biasanya. Apalagi cipratan air hujan membuat pakaian mereka sedikit basah.

“Bodo amat!”

“Dingin nih Ai, peluk dong!” Alvaro mendekat ingin dipeluk oleh Aeris.

“Alvaro!” geram Aeris kesal dan mendorong Alvaro agar menjauh.

Tiba-tiba suara petir menggelegar. Aeris reflek memeluk Alvaro membuat tubuh lelaki itu menegang. Jantung keduanya berdegup di atas normal. Alvaro mengangkat kedua tangannya untuk menutup telinga Aeris. Aeris semakin mengeratkan pelukannya karena takut membuat Alvaro tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Debaran jantungnya semakin menggila, dan Alvaro menyukainya.

“Sudah puas meluk akunya?” goda Alvaro karena Aeris tidak juga melepas pelukannya. Padahal suara petir tidak lagi terdengar.

“Ish,” Aeris segera melepas pelukannya. Kedua pipinya merona karena malu.

“Ayo pulang!” Alvaro menautkan jemarinya pada jemari Aeris mengajak gadis itu berlari menerobos hujan. Tanpa Aeris sadari Alvaro telah memberi warna baru di hidupnya setelah kepergian Fabio.

 

***

 

“Terima kasih sudah memilih gaun rancangan butik kami,” ucap Aeris pada pelanggan yang baru saja memesan gaun pengantin. Aeris menatap mereka sendu. Kapan Fabio akan kembali untuk menepati janji yang mereka buat dulu?

“Aeris, tolong kamu urus Mbak ini. Tante mau jemput Alanis dulu!” perintah Irana, tante Aeris. Ia ingin menjemput putrinya di sekolah.

“Baik Tante.” Aeris mengulurkan tangan pada perempuan cantik yang duduk di depannya. “Aeris,” ucapnya memperkenalkan diri.

“Adinda,” sambut perempuan itu ramah.

“Tema pernikahan Mbak seperti apa?” tanya Aeris agar ia bisa merancang gaun sesuai dengan tema pernikahan Adinda.

“Saya ingin tema yang sesuai dengan bulan Desember,” jawab Adinda.

Aeris mengangguk. Ia lalu menunjukan beberapa contoh gaun pengantin hasil rancangannya pada Adinda. Tidak butuh waktu lama bagi Adinda untuk menemukan gaun pengantin yang sesuai dengan keinginannya.

“Calon mempelai pria di mana Mbak?” tanya Aeris karena tidak melihat calon suami Adinda.

Wajah Adinda bersemu merah mendengar Aeris menanyakan di mana calon suami yang sangat dicintainya. “Dia sedang mengambil tas saya di mobil.”

“Kenapa kamu selalu meninggalkan tas di mobil Sayang?” ujar seorang lelaki yang memasuki pintu utama butik.

“Maaf, Sayang, aku selalu lupa.” jawab Adinda manja.

Deg,

Tubuh Aeris menegang. Suara itu? Ia masih ingat betul siapa pemilik suara itu. Suara yang selalu ingin ia dengar. Suara yang selalu ia rindukan. Suara yang pernah mengisi separuh masa di hidupnya. Suara itu … suara cinta pertamanya.

Aeris mengangkat kepalanya. Tatapan keduanya bertemu dan terkunci cukup lama. Aeris dan Fabio nampak terdiam dalam kebisuan.

 

***

 

Alvaro membawa sekotak pizza di tangannya. Senyum cerah menghiasi bibirnya karena semalam ia bisa mengantar Aeris pulang. Lelaki itu sudah menaruh hati pada Aeris saat melihat gadis itu untuk pertama kali.

Senyum di bibir Alvaro pudar saat melihat Aeris. Gadis itu berusaha terlihat kuat meskipun ia sedang tidak baik-baik saja. Alvaro yakin penyebabnya adalah lelaki yang sedang berdiri memunggunginya. Fabio, cinta pertama Aeris.

Fabio sama terkejutnya dengan Aeris. Ia tidak percaya jika orang yang merancang baju pernikahannya adalah Aeris. Gadis yang ia campakkan tanpa alasan yang jelas.

“Fabio?” gumam Aeris pilu. Kedua matanya terlihat berkabut. Dadanya sesak. Seperti ada tangan yang meremas jantungnya kuat. Sakit. Ia terlalu takut menerima kenyataan di hadapannya. Impian untuk bisa bersatu dengan cinta pertama hancur dalam sekejap.

“Aeris!” Fabio menatap Aeris sendu. Ingin sekali ia menarik tubuh rapuh Aeris ke dalam pelukannya.

“Kalian saling kenal?” Adinda menatap keduanya bergantian.

Aeris dan Fabio hanya diam membuat Adinda tanpa sadar mengembuskan napas lega.

 

***

 

Aeris melipat sebelah tangannya di atas meja dan membenamkan kepalanya di sana. Tubuh gadis itu terlihat bergetar. Isakan kecil kembali lolos dari bibirnya. Aeris tidak percaya jika Fabio mengingkari janji yang mereka buat 16 tahun yang lalu. Lelaki itu kembali bukan untuk melanjutkan kisah mereka, melainkan membangun kisah yang baru. Hatinya hancur.

Alvaro menatap Aeris sendu. Ia tidak sanggup menatap Aeris. Gadis pujaannya tersakiti. Lelaki bertubuh jangkung itu bisa bertahan di samping Aeris meskipun gadis itu menolaknya berkali-kali. Tapi ia tidak akan tahan jika melihat belahan jiwanya tersakiti.

“Ai!” panggil Alvaro pelan.

“Hmm,” Aeris mengangkat kepalanya dengan lemah sebelum akhirnya dia pingsan.

“Aeris, bangun, Sayang!” Alvaro mendekap tubuh Aeris dan menepuk kedua pipinya pelan.

“Bangun Aeris, jangan bodoh!” ucapnya cemas. Tubuh Aeris panas dan wajahnya terlihat pucat. Dengan sigap, Alvaro mengangkat tubuh Aeris membawa gadis itu pulang ke rumahnya.

 

 

***

 

Alvaro membaringkan Aeris dengan hati-hati di ranjangnya. Dia membentangkan selimut tebal untuk gadis itu. Setelah itu, ia mengambil handuk kecil dan sebaskom air untuk mengompres Aeris. Alvaro melakukannya berkali-kali agar demam Aeris turun.

“Gadis bodoh! Tidak bisakah kau membuatku tidak khawatir!” desis Alvaro disela ia mengompres kening Aeris.

“Cinta pertama tidak akan pernah berhasil! Dasar bodoh!” gerutu Alvaro kesal. Menurutnya Aeris benar-benar bodoh. Mengharap bersatu dengan cinta pertama yang jelas-jelas sudah mencampakkannya.

“Kau itu bodoh. Tapi aku lebih bodoh karena mencintai gadis bodoh sepertimu!”

“Sudah selesai marahnya?”

Alvaro berjengit kaget karena mendengar suara Aeris. Raut wajahnya yang kesal seketika berubah cemas saat melihat Aeris meringis sambil memegangi kepalanya.

“Mana yang sakit, Sayang?” Tanya Alvaro khawatir.

“Hatiku yang sakit,” jawab Aeris parau. Tubuhnya mendadak lemah setelah bertemu dengan Fabio karena terlalu sulit menerima kenyataan bahwa mereka tidak akan bisa bersatu.

“Lupakan cinta pertamamu dan menikahlah denganku!”

 

***

 

Aeris berusaha melepas cekalan Fabio. Ia tidak percaya jika lelaki itu berani menemuinya setelah menghancurkan hatinya.

“Ada perlu apa kau?” nada Aeris terdengar dingin. Ia menunduk, tidak berani menatap Fabio.

“Aku mohon, dengarkan dulu penjelasanku!”

“Penjelasan apa lagi Fabio?”

“Setahun setelah aku pergi ke Inggris. Perusahaan Papa terancam bangkrut. Aku terpaksa menerima perjodohan dengan Adinda agar perusahaan Papa selamat. Sejak saat itu hidupku hancur, Aeris!”

Tubuh Aeris menegang saat mendengar penjelasan Fabio.

“Aku tidak mencintainya, tapi aku harus melakukannya!” desah Fabio menahan air matanya. Dia menarik tangan Aeris dan menggegamnya erat.

“Mungkin aku terlambat mengatakan ini. Aku mencintaimu Aeris. Aku akan membatalkan pernikahanku dengan Adinda, setelah itu kita akan menikah dan hidup bahagia!”

Aeris sontak melepas tangannya dari genggaman Fabio.

“Kamu lelaki paling berengsek yang pernah kukenal Fabio. Apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Adinda? Dia juga perempuan sama sepertiku. Di mana hati nuranimu, Fabio? Cukup aku saja yang kau sakiti, jangan Adinda.” mata Aeris terasa panas siap untuk menumpahkan air mata.

“Tapi aku cinta sama kamu, Aeris.” kekeh Fabio.

Aeris menarik napas panjang untuk mengurangi sesak di dalam dadanya. “Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu lagi!” ucapnya lemah.

“Aeris aku ….”

“Pergilah Fabio!”

Fabio meremas rambutnya frustrasi kemudian berlalu dari hadapan Aeris. Sekarang ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk kembali bersama Aeris. Sepeninggal Fabio, tubuh Aeris merosot ke lantai butik. Semuanya telah hancur dan tidak akan pernah kembali utuh.

Alvaro hanya bisa diam menyaksikan keduanya. Dengan langkah lebar dia menghampiri Aeris. Sorot matanya memancarkan kesedihan yang teramat dalam melihat gadisnya kembali tersakiti.

“Aeris!” ditepuknya bahu gadis itu pelan. Aeris mengangkat kepalanya lantas melemparkan diri dalam pelukan Alvaro. Gadis itu menangis sejadi-jadinya melampiaskan sakit hatinya. Alvaro hanya diam dan mengusap kepala Aeris lembut. Dengan sabar dan penuh pengertian lelaki itu membiarkan Aeris meluapkan kesedihan, kekecewaan, juga rasa sakitnya.

Setelah lebih dari satu jam, Aeris sudah lebih tenang. Hanya terdengar isakan kecil yang sesekali lolos dari bibir mungilnya.

Aeris meremas jaket Alvaro erat yang basah karena air matanya.
“Permintaanmu waktu itu masih berlaku?” tanya Aeris membuat Alvaro mengerutkan kening bingung.

“Permintaan yang mana?” tanya Alvaro tidak mengerti.

“Kita menikah minggu depan!”

Alvaro menyipitkan mata mendengar gurauan Aeris. Menurutnya Aeris tidak lucu sama sekali.

“Aku serius!” ucap Aeris berusaha meyakinkan Alvaro karena melihat keraguan di mata lelaki itu.

“Pikirkan baik-baik, Aeris!” kenyataan Aeris hanya menjadikannya sebagai pelarian membuat hati Alvaro terasa dicubit, sakit.

“Aku tidak main-main Alvaro. Aku mau menjadi istrimu. Menjadi ibu dari anak-anakmu. Nikahi aku Alvaro Natawijaya!” Aeris meringis, dulu ia pernah meminta Fabio untuk menikahinya. Sekarang Alvaro. Sepertinya ia sudah mulai tidak waras.

“Baiklah jika itu maumu. Aku akan membuatmu jatuh hati padaku dan melupakan cinta pertamamu. Aeris Violleta, kita menikah minggu depan!”

Alvaro menarik wajah Aeris untuk mendekat dan memberikan sebuah kecupan manis di bibirnya.(*)

Aldalia Aeri Cindhy, gadis remaja yang suka mengkhayal dan punya impian pergi ke Korea Selatan supaya bisa bertemu dengan oppa-oppa berwajah tampan

Tantangan Lokit 6 adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakan di grup FB KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

Tags

Tulisan terkait

Close