CerpenTantangan Lokit 6

Di Balik Cinta Pertama

Cerpen Terpilih ke-7 pada #Tantangan_Lokit_6

Di Balik Cinta Pertama
Oleh: Sukra Ageng Winasih
Cerpen Terpilih ke-7 pada #Tantangan_Lokit_6

Aku yakin semua orang pernah mengalami fase di mana mereka mulai mengenal cinta. Merasakan degup jantung yang tak biasa saat berpapasan dengan orang yang sering disebut pujaan hati. Menyiapkan ribuan kata-kata indah untuk melelehkan hatinya. Mencoba seribu satu macam cara untuk mendapatkannya. Yah, meski kadang itu semua gagal dilancarkan. Yang berujung pada kekecewaan juga kekesalan.

Beberapa orang mungkin menganggap cinta pertama adalah hal yang paling indah nan luar biasa. Mengagungkannya dengan begitu berlebihan. Umbar sana-umbar sini tiada malu. Ah, masa remaja! Masa yang konon katanya paling indah dalam seluruh siklus kehidupan manusia dan menjadi masa yang kita tertawakan di suatu waktu nanti. Seperti aku saat ini, tersenyum geli mengenang masa remajaku. Masa yang sudah terlewati sepuluh tahun yang lalu. Ini bukan tentangku ataupun cinta pertamaku, melainkan tentang mereka dan segala kealayannya.

***

Bagi kami, pacaran itu hal yang lumrah dilakukan meski baru menginjakkan kaki pada jenjang SMP. Kami merasa sudah lebih dari cukup untuk mengerti apa itu cinta. Jomblo mungkin menjadi julukan yang kurang enak didengar. Tidak punya pasangan menjadi sesuatu yang aneh dan perlu ditertawakan. Ya, seperti inilah keadaannya. Begitu penuh dengan sepasang kekasih pemilik cinta monyet.

Suatu waktu kawanku datang menghampiri. Dia tarik lenganku, menyeretku keluar kelas. Benar-benar tidak peduli dengan sekelilingnya, tidak peduli bagaimana orang-orang menatapnya aneh, dan menatapku penuh belas kasih. Dia terus menyeretku hingga tiba di toilet. Membawaku ke dalam, dan … hap! Dia memelukku erat, terisak. Loh, kenapa, nih, anak? batinku. Hening di antara kami. Menyisakan suara tawa dan obrolan yang samar terdengar dari arah luar.

“Eh, Wid, kenapa?” tanyaku setelah hening sejenak. Tidak ada jawaban. Oke, deh, mungkin dia perlu menenangkan diri dulu, batinku. Kubiarkan dia menangis terisak di pundakku.

Tetes air dari keran yang bocor menghitung tiap detiknya. Seakan tahu benar aku sedang menunggu. Satu menit berlalu, akhirnya dia melepas pelukannya.

“Lo tau gak, Lin?” Dia memulai ceritanya sambil membuang ingus sebentar.

“Enggak,” potongku dengan polosnya.

“Jangan dipotong! Main potong aja kayak tukang roti bakar.”

“Loh, kok tukang, sih? Bukannya penjual, ya?” protesku bingung.

“Gue lagi ngelawak, Lin.”

Aku tertawa seketika. “Hahahahaha!” Dan dia menatapku datar.

Krik … Krik … Krik …!

“Ehem! Oke, kembali ke permasalahan. Lo kenapa, kok sampe nangis gitu?” tanyaku setelah menyadari raut wajahnya yang sedatar dinding toilet.

“Awan tadi malem cari masalah sama gue, Lin. Masa foto cewek lain dijadiin DP BBM dia coba? Gue kan, sakit hati, Lin. Sakit sesakit-sakitnya.” Entah datang dari mana, refrain lagu “Pernah” milik Azmi terngaing dalam benakku. Benar-benar backsound yang pas.

Pernah sakit, tapi tak pernah sesakit ini ….

“Ya, kali aja cuma iseng, Wid. Atau mungkin ada yang jail sama dia. Bisa jadi, kan? Udah lah, positive thiking aja.” Aku mencoba menenangkan perasaannya yang sedang berkecamuk itu, meski aku sendiri tidak tahu bagaimana rasanya.

Dia mengangguk, menurut.

Belum genap dia menceritakan segala keluh kesahnya, bel masuk sudah berbunyi terlebih dulu. Terpotonglah ceritanya. Aku menghela napas. Sekarang giliran speaker sekolah yang seperti penjual roti bakar, main potong aja, batinku.

“Udah bel, tuh. Masuk kelas, yuk!” ajakku.

Kami berdua keluar dari bilik toilet. Kebetulan ada yang mengantre tepat di depan pintu. Melihat kami berdua keluar dari bilik yang sama, mereka menatap kami curiga. Ngapain, tuh, cewek berdua masuk di bilik yang sama? Mungkin itu yang ada dipikirannya. Mereka tidak tahu bahwa kawanku yang satu ini sedang dilanda rasa sakit yang amat mendalam—katanya.

***

Ada keheningan yang menghinggapi kami saat berjalan melewati koridor sekolah. Sama-sama diam, sama-sama dihantui beberapa pertanyaan yang kebetulan singgah dalam pikiran masing-masing. Aku mulai berpikir, seperti apa rasanya sakit hati karena cemburu? Kira-kira seperti apa rasanya diduakan? Apakah sama seperti ketika ibu hanya membelikan baju untuk adik? Atau saat ibu terlihat lebih sayang dengan adik daripada denganku? Ah, ini benar-benar memusingkan juga membingungkan. Pikiranku mulai terbang kesana-kemari. Membayangkan ribuan hal, memikirkan kalau hal yang dialami Widy juga dialami olehku. Apa mungkin aku akan terpuruk juga? Hingga aku harus menangis sesenggukan di balik pintu toilet seperti yang tadi dilakukan oleh Widy.

“Lin, lo tau nggak?” tanya Widy meletuskan gelembung keheningan yang menyelimuti kami. “Awan pacaran sama gue, tuh, kayak gak pacaran coba?” lanjutnya.

“Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Kalo di BBM dia care banget sama gue. Perhatian gitu. Selalu tanya, udah makan belom? Selalu ngingetin gue buat shalat. Terus kalo gue gak nurut sama dia, pasti dia marah. Ya, gitu lah! Tapi kalo di sekolah, beuh, jangankan nyapa, senyum aja enggak.”

“Oh, lha terus? Apa hubungannya pacaran sama gak pacaran coba?”

“Ya, masa dia gak nyapa, kayak gak kenal aja. Paling enggak, ya, senyum kek! Masa ngelirik doang, udah. Mukanya datar. Gak ada senyumnya sama sekali,” jelasnya dengan sesekali menggerakkan tangannya, menggambarkan.

“Eh, emang dia pacar lo yang ke berapa?” tanyaku. Mengingat di sekolahku pacaran itu seperti budaya terlarang yang diperbolehkan oleh penduduknya sendiri.

“Dia cinta pertama gue.”

“Serius?” tanyaku setengah tak percaya.

“Beneran.”

Aku kembali diam. Hening kembali hinggap. Cinta pertama? Batinku.

Setelah sampai ruang kelas, aku duduk santai. Sekarang pelajaran kosong, tidak ada tugas. Maka berbahagialah kami semua. Beberapa anak mulai membuka gawainya secara sembunyi-sembunyi, takut ketahuan guru. Melihat itu, aku ikut membuka gawai yang sejak tadi terpenjara dalam tas ransel.

Bosan membuka BBM, aku memilih untuk membuka facebook. Scroll bawah pelan, membaca status-status yang terpampang di sana satu per satu. Widy rupanya membuat status di sana.

Kamu terlalu jahat, permainkanku sekejam ini. Aku sayang sama kamu, kenapa kamu khianatin aku kayak gini sih?!

Dan diakhiri dengan emoticon hati retak. Aku hanya menggeleng pelan. Scroll lagi ke bawah, bertemu lagi dengan statusnya.

Kamu masih cinta sama aku gak sih? Aku tuh selalu sabar ngadepin kamu, tapi kenapa kamunya kayak gini ke aku? Kamu jahat! Jahat! Jahat!

Di bawahnya ada hashtagAwanPcrq”. Astaga, nih anak! batinku. Aku mencoba scroll lagi ke bawah, dan menemukan status-status serupa.

Aku coba me-refresh facebook untuk mendapat status kiriman terbaru. Dan aku menemukan lagi status dari Widy.

Kalo kamu kayak gini terus, aku pengen kita PUTUS!     

What?! Putus? Harus segitunya, ya? Gak bisa diomongin baik-baik apa? Baru pacaran seminggu udah minta putus? Buset, deh, batinku.

Aku mencoba mengirimnya pesan via facebook.

“Wid, seriusan lo mau putus sama Awan?” tulisku dalam kolom pesan.

Tidak lama kemudian dia membalas, “Iya, kenapa? Gue udah gak tahan sama dia, Lin. Dia udah sering nyakitin gue. Dia gak pernah bisa ngertiin gimana perasaan gue.”

Aku menepuk jidat pelan. Benar-benar tidak percaya dengan jawabannya. Kalau diingat-ingat lagi, padahal dia yang menyatakan cintanya ke Awan. Memintanya untuk bersedia menjadi pacarnya. Bukan Awan yang mengemis cintanya, justru Widy sendiri yang mengemis meminta secuil hati Awan. Dan sekarang lihat, malah dia sendiri yang kesakitan. Merengek dan mengeluh sakit hati. Meminta untuk segera dilepaskan dari ikatannya sendiri.

***

Keesokan paginya, Widy datang lagi menemuiku. Memasuki kelasku tanpa permisi, lalu menyeretku keluar. Bel masuk belum berbunyi memang, tapi pagi ini aku sedang disibukkan oleh tugas yang tidak sempat aku kerjakan tadi malam. Jadi aku sedikit memberontak, mencoba melepaskan genggaman erat tangannya.

“Apaan lagi, sih, Wid? Masalah Awan lagi?” tanyaku setelah tanganku terlepas. Dia mengangguk. “Bukannya gak mau bantu, tapi kebetulan gue lagi ada tugas, nih. Jadi, sorry, ya, gue mau ngerjain tugas dulu, baru nanti gue dengerin semua curhatan lo. Oke?”

“Ck, bentar doang, Lin. Gue janji cuma lima menit, deh. Ya?” pintanya. Oke, aku mengalah. Aku dengarkan semua ocehannya pagi ini. Beberapa burung yang hinggap di dahan pohon dekat kami mulai terbang menjauh. Merasa tersaingi oleh kicauan Widy.

“Hahahahaha! Jadi cewek yang dijadiin DP BBM sama si Awan itu sepupunya?” tanyaku menyimpulkan seluruh ceritanya.

“Iya, ternyata dia sepupunya Awan. Gue kira selingkuhannya,” jawabnya sedikit malu.

“Hahahaha! Terus lo jadi putus sama Awan?” tanyaku lagi dengan sisa tawa yang masih menggelitik hati.

“Enggak, dong!”

“Untung gak jadi putus. Lha kalo beneran putus, terus lo baru tau yang sebenernya setelah lo putus sama dia? Mampus, deh, lo. Hahahaha!” Kulihat wajahnya cemberut masam. “Makasih, ya, Wid. Makasih banget, serius,” lanjutku.

“Makasih buat apa?” dia bertanya bingung.

“Makasih udah bikin gue ketawa pagi-pagi gini. Lumayan, kan, mood gue jadi bagus. Hahaha!” Aku beranjak pergi menuju kelas dengan tawa yang masih menggantung di langit taman.

Dua tahun setelah kejadian itu, ternyata takdir membawaku pada kejadian serupa. Cinta pertama, tergila-gila dan terpuruk dengan segudang rasa cemburu yang membakar hati. Kalian tahu? Kalimatku memakan diriku sendiri. “Lha kalo beneran putus, terus lo baru tau yang sebenernya setelah lo putus sama dia? Mampus, deh, lo!”

Aku ingat kalimat bijak yang satu ini, “Jika kuku kita panjang yang dipotong ya kukunya, bukan jarinya. Jika ada masalah dengan pacar yang di potong ya masalahnya, bukan hubungannya.” Dan sepertinya hubungan Widy membaik karena memotong egonya, sedangkan aku memburuk karena memotong hubunganku. Hah, mampus  deh, gue! batinku.

Setelah kejadian ini, aku menyadari, ternyata cinta pertama itu indah. Selalu indah dengan sudut pandangnya masing-masing. Namun yang perlu kalian ketahui tentang cinta pertama adalah bahwa di balik cinta pertama selalu ada kealayan yang menyertai. Dan aku sudah melalui fase ini dengan penuh kealayanku. Aku harap, semoga kalian juga mengalaminya dengan penuh kealayan kalian.(*)

Sukra Ageng Winasih. Lahir di kota Dawet Ayu, Banjarnegara. Sekarang sedang menajalani fase paling akhir dari sebuah Sekolah Menengah Kejuruan. Dan semoga ini menjadi fase terindah dari seluruh siklus kehidupan pelajar.

Tantangan Lokit 6 adalah perlombaan menulis cerpen yang diselenggarakan di grup FB KCLK.

Grup FB KCLK
Halaman FB Kami
Pengurus dan kontributor
Mengirim/Menjadi penulis tetap di Loker Kata

Tags

Tulisan terkait

Close