MotivasiNongkrongPendidikanSantai

Apa Kabar Sampah?

Oleh: El-Rash

Apa Kabar Sampah?

Oleh: Ach Faisol

Ketika mendengar kata sampah, apa yang tergambar pertama kali di benak kalian? Kotor, bukan? Dan bau lagi. Pokoknya, sudah pasti terkesan menjijikkan. Ya, memang begitulah sampah yang selalu dikaitkan dengan hal-hal semacam itu. Karena memang akan berdampak demikian jika dibiarkan dan tidak segera dibersihkan.

Sebenernya kalau kita mengkaji tentang sampah itu sendiri, maka kita akan teringat kembali dengan kalimat, “Sisa sesuatu yang sudah tidak diinginkan lagi”. Kenapa dikatakan sisa? Karena sampah memang merupakan bagian dari sesuatu yang sudah tidak diperlukan lagi. Katakanlah kerupuk, yang terbungkus oleh plastik. Sampah yang nantinya tidak terpakai lagi yaitu bungkus dari kerupuk tersebut, karena setelah memakan habis kerupuknya tidak mungkin plastiknya akan dikunyah juga. Maka dari itu, plastik tersebut dikatakan sampah.

Umumnya lagi mengenai sampah ini adalah sisa sesuatu yang sudah terbuang begitu saja. Entah itu datangnya dari manusia, hewan, maupun tumbuhan yang dihasilkan dalam bentuk zat padat, cair, ataupun gas. Jadi, sebenarnya sampah itu secara umum tidak hanya seperti yang kita bayangkan selama ini. Akan tetapi, kotoran atau gas dari dalam tubuh juga termasuk sampah.

Nah, tapi ada yang menarik dan perlu mendapat perhatian lebih mengenai sampah yang satu ini, yaitu sampah anorganik. Sampah yang tidak mudah membusuk atau terurai. Misalnya seperti plastik, pembungkus makanan, botol, kaleng, kaca, dan masih banyak lagi. Eits, tapi jangan salah! Jenis sampah yang satu ini ternyata menguntungkan, lho! Selain dapat diperjual belikan, sampah anorganik juga bisa didaur ulang. Mengasyikkan, bukan? Jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan akan menjadi bersih dan kita bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Hal inilah yang kemudian menarik perhatian masyarakat, khususnya para mahasiswa. Kenapa mahasiswa? Ya, seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Agen kontrol sosial yang dinilai memiliki tingkat pemikiran dan kesadaran di atas masyarakat pada umumnya. Tapi mirisnya, saat ini hanya sedikit dari mereka yang kurang peduli terhadap lingkungan.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa sampah anorganik adalah sampah yang sangat sulit terurai, maka bungkus-bungkus dari jajanan atau minuman termasuk di dalamnya. Nah, berbicara jajanan di sini, siapa yang tidak suka ngemil? Apalagi mahasiswa yang sangat erat sekali hubungannya dengan yang namanya jajanan. Bagi mereka, cemilan adalah sesuatu yang harus dibawa ke mana-mana, terutama ketika sedang ada tugas kelompok. Sudah bukan rahasia lagi jika cemilan yang mereka bawa melebihi jumlah buku yang sudah menumpuk di atas meja. Jangankan di kantin, di mana pun saat jam istirahat tiba, keripik dan secangkir kopi bahkan sudah menjadi teman favorit. Ya, begitulah mahasiswa yang sangat doyan dengan jajanan. Akibatnya, sampah anorganik semakin menumpuk di area kantin dan kampus. Hal yang sudah tidak dapat dimungkiri lagi.

Menggilanya mahasisiswa yang mengkonsumsi jajanan dan minuman berbungkus plastik, menyisakan sampah di sembarang tempat. Akibatnya apa? Bau, kotor, bahkan berdampak pada pencemaran lingkungan yang akan berujung banjir ketika musim penghujan datang. Itu sudah pasti. Katakanlah satu mahasiswa mengkonsumsi jajanan dan minuman berkaleng pada pagi, siang, dan sore. Jika tiap harinya mereka menghasilkan enam sampah untuk dibuang, dalam sebulan atau setahun sudah berapa sampah yang menumpuk? Itu baru satu mahasiswa, bagaimana jika lebih dari itu? Mengerikan, bukan?

Lebih memprihatinkan lagi ketika sampah yang kian menumpuk tersebut tidak segera dibersihkan. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, di zaman modern ini hanya sedikit orang yang peduli terhadap lingkungan, pun para mahasiswa. Contohnya saja ketika sebagian besar dari mereka begitu sibuk dengan gadget. Ini sungguh kesalahan yang sangat besar. Mereka lupa dengan kursi mereka, dengan keberadaan dan tanggung jawab yang harus membawa perubahan positif terhadap lingkungan. Saat ini, sudah bisa dipastikan sebagian besar mahasiswa adalah penggila gadget dengan media sosial dan games-nya.

Berbicara lagi mengenai sampah, jika di lingkungan kampus sudah tercemar oleh bau busuk dari tumpukan benda tersebut, sudah pasti akan tercipta suasana yang kurang menyenangkan. Semua warga kampus termasuk mahasiswa, akan terganggu dengan bau itu. Terganggu dengan kotornya sampah yang berserakan akibat ulah mereka sendiri. Jika sudah demikian, bisa-bisa kampus menjadi salah satu sektor bagi program penanggulangan sampah. Upaya yang mungkin dilakukan adalah meminimalisir jumlah sampah yang berserakan di area kampus hingga kegiatan penyuluhan daur ulang sampah. Pada kasus ini, saya anggap merupakan masalah yang kecil tapi akan berdampak besar jika terus-menerus dibiarkan. Kampus harus menjadi tempat terakhir dalam mengupayakan segala cara yang berhubungan dengan pencegahan menumpuknya sampah agar jumlahnya tidak semakin meningkat.

Unit Kerja Mahasiswa (UKM) sebagai alat operasional kampus diharapkan bisa menjalankan perannya dengan baik. Untuk itu diperlukan pemahaman bahwa mereka tidak hanya diajarkan untuk menguasai, namun juga memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, utamanya lingkungan kampus. Pastinya sebagai modal mereka untuk terjun kembali ke  masyarkat nanti.

UKM di sini memiliki peranan sebagai tangan kanan kampus dalam menuntaskan masalah sampah. Misalnya penyediaan tempat sampah di depan-depan kelas, di kantin, di area tongkrongan mahasiswa, dan di tempat-tempat yang rawan terdapat sampah. Dengan demikian, akan sangat membantu terjaganya kelestarian lingkungan tanpa adanya tumpukan sampah lagi. Sehingga kampus akan lebih bersih dan kecil kemungkinan terjadi banjir meski curah hujan sedang tinggi.

Selain tempat sampah, kegiatan mendaur ulang juga bisa diterapkan oleh pengurus-pengurus UKM. Pasalnya, bukan hanya lingkungan yang membaik tetapi kreativitas mahasiswa akan lebih diperhitungkan lagi. Atau bisa juga sampah-sampah tersebut dijual kepada orang yang biasa membeli botol-botol, peralatan bekas dan semacamnya, jika dirasa tidak dapat mengolahnya sendiri. Ada juga yang lebih praktis dari keduanya, yaitu menimbun sampah ke dalam lubang. Hal ini akan sangat mengurangi pengeluaran, jika dana dan kreativitas menjadi masalah. Penimbunan semacam ini akan membantu proses penguraian sampah anorganik sehingga tidak membahayakan lingkungan, entah itu yang berdampak pada tanah atau pada manusianya.

Penempatan tong sampah di area yang rawan kotor, mendaur ulang atau menjual sampah untuk didaur ulang, serta menimbun sampah, merupakan satu langkah menuju pemberdayaan lingkungan. Pencemaran tak akan terjadi lagi di kampus-kampus, yang dampaknya akan merembet pada masyarakat sekitar. Kotor dan bau yang mengganggu kegiatan perkuliahan, hanya akan menjadi sejarah yang takkan terulang lagi. Tentu saja, jika upaya penanggulangan tersebut benar-benar dilakukan.

Sebagai mahasiswa yang mengemban tugas perubahan dalam masyarakat, patutlah untuk selalu memperjuangkan kelestarian lingkungan. Terlebih untuk masalah sampah yang terlihat sepele namun berdampak besar dan berkepanjangan. Mahasiswa harus lebih peka terhadap lingkungan, dan lebih kreatif dalam menanggulangi permasalahan sampah. Pengadaan tempat sampah, mendaur ulang dan menimbun sampah adalah sebuah langkah bijak dalam memelihara dan memulihkan pencemaran lingkungan yang ada.(*)

Biografi Singkat Penulis

Penulis adalah salah satu mahasiswa semester IV Fakultas Syariah jurusan Hukum Ekonomi Syariah di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) yang berada di kecamatan Guluk-Guluk kabupaten Semenep Jawa Timur.

Bisa dihubungi melalui: Facebook (Ach Faisol atau El Rash), HP/ Whats App (085210321265 atau 087851013770), atau melaui email: achfaisol01@gmail.com

Grup FB KCLK
Halaman FB kami
Pengurus dan kontributor
Cara mengirim tulisan
Menjadi penulis tetap di Loker Kita

Tags
Close