Film dan BukuRubrik Umum

Review Film: The Salesman (2016): Kompleksitas Drama

Berry Budiman

The Salesman (2016): Kompleksitas Drama

Salah satu film terbaik tahun lalu tentu saja datang dari nama yang satu ini, Asghar Farhadi, seorang sutradara asal Iran. Sudah hukum alamnya begitu, sutradara bagus akan membuat film-film bagus. Karena itulah hal pertama yang selalu saya cek seusai menonton film bagus adalah mencari tahu nama sutradaranya. Sudah barang tentu, film-film lainnya pun akan memiliki kualitas yang tidak jauh beda, atau bahkan bisa lebih bagus. Hal itu saya rasa lebih efektif ketimbang menonton film yang disebut box office saja , atau yang sedang marak dibicarakan saja.

Untuk Asghar sendiri, ada beberapa filmnya yang sudah saya koleksi, selain The Salesman (2016), ada The Past (2013), A Separation (2011)—film pertamanya yang saya tonton, About Elly (2009)—belum sempat saya tonton, dan Fireworks Wednesday (2006).

Selayaknya film Asghar yang lain, film ini juga menghadirkan cerita yang kompleks, dan kenyataan bahwa cerita yang kompleks itu bisa dicerna dengan baik oleh penonton, menunjukkan kepiawaian story telling yang mumpuni dari sang sutradara. Di dalam cerita yang kompleks, kita dihadapkan pada konflik yang melibatkan banyak tokoh. Kita diajak bertanya-tanya tentang siapakah yang benar-benar bertanggung jawab atas konflik yang terjadi. Namun pada akhirnya, kita diajak untuk berempati kepada setiap tokoh yang terlibat. Bahwa mereka mempunyai motif sendiri sebagai pembelaan, bahwa terkadang sesuatu terjadi begitu saja, atau bahwa mereka adalah manusia biasa yang wajar jika melakukan kekhilafan—karena kehidupan ini terlalu rumit untuk dijalani dengan senantiasa berlaku mulia. Atau bahwa, beginilah kehidupan itu, ada baik-buruk dan ada sedih-senang.

Kita akan merasakan bahwa tidak ada tokoh yang layak untuk disalahkan di dalam cerita tersebut, bahkan sang antagonis sekalipun. Asghar menampilkan setiap tokoh dengan motif yang autentik dan bahwa setiap hal bersebab-akibat. Ia seolah membuat kita membayangkan, jika kita berada di posisi si tokoh, mungkin kita akan melakukan hal yang sama. Kita akan melihatnya sebagai suatu sebab atas hal yang lain, atas perlakuan yang lain, dan akhirnya, dari kondisi yang kompleks.

Jika diteruskan, analisis pada film Asghar ini akan membawa kita kepada topik-topik yang makin mendalam dan serius seperti politk, budaya, psikologis, spritual dan lain-lain. Karena itu, sebaiknya kita melihatnya sebagai sebuah film yang bagus saja dan bila pun ia hidup terus di benak kita, nikmati sajalah ia sebagai sebuah pertanyaan/kesimpulan yang bisa mendewasakan.

Film ini mengisahkan tentang sepasang suami-istri (Emad dan Rana) yang juga tergabung dalam sebuah komunitas drama pertunjukan yang di sana juga mereka berperan sebagai pemain. Selain sibuk dengan kesenian tersebut, Eman adalah seorang guru seni di sekolah. Pada awal-awal film, gedung flat tempat mereka tinggal  bergoncang karena akan digusur oleh pengembang atau pemilik tempat itu. Karena itu mereka bersama dengan penghuni flat lainnya perlu sesegera mungkin mencari tempat tinggal baru—flat itu bisa saja rubuh sewaktu-waktu. Pada saat itulah salah seorang rekannya di grup seni pertunjukan, Babak, menawarkannya flat miliknya yang baru-baru ini sedang kosong karena ditinggal pemiliknya. Maka pindahlah mereka ke flat tersebut. Masalahnya, salah satu ruangan di sana nampak terkunci rapat dan masih menyisakan barang-barang penghuni sebelumnya—seorang perempuan bersama anak kecil. Setelah ditanyakan, penghuni lama itu menjawab kalau ia akan mengambil barang-barangnya setelah menemukan tempat tinggal baru.

Babak merasa kesal dengan jawabannya itu, begitu pula Rana. Karena ia tidak kunjung menepati janjinya untuk memindahkan barang-barangnya itu, maka Babak pun mendobrak pintu tersebut dan mengeluarkan barang-barangnya dan meletakkannya di teras flat mereka. Flat mereka berada di rooftop gedung.

Tahu bahwa barang-barangnya dikeluarkan, perempuan itu marah kepada Babak dan menurutnya, perempuan itu melontarkan ancaman—yang detil kalimatnya tidak dijelaskan oleh Babak. Emad tidak mendukung perbuatan Babak yang juga didukung istrinya itu, tapi nampaknya ia tidak bisa menentang mereka lebih jauh. Hal itu ia tunjukkan dengan merapikan dan menutupi dengan plastik barang-barang perempuan itu yang diletakkan di teras supaya tidak rusak karena hujan dan sinar matahari.

Pada suatu siang ketika Babak masih di lokasi pertunjukan—ia perlu bertemu dengan pendana pertunjukan mereka—Rana meminta untuk pulang lebih dulu. Di rumah, mereka sempat berteleponan dan Rana memintanya untuk membelikan sarapan untuk besok pagi dan berkata bahwa ia akan mandi dulu. Pada saat itulah, karena kecerobohannya, ia tidak memastikan terlebih dahulu apakah pintu flatnya sudah tertutup rapat. Kemudian, kejadian yang menjadi konflik utama film ini pun terjadi, seseorang menyusup ke rumah dan menyerang Rana.

Istrinya tidak ada di rumah ketika Emad pulang, sementara itu, ia menemukan bercak darah di tangga dan lebih banyak darah lagi di kamar mandi flatnya. Rana ternyata sudah dibawa ke rumah sakit oleh tetangganya dan mengalami luka yang cukup parah di kepala—memerlukan beberapa jahitan untuk menutup luka itu.

Mulai dari sana, intensitas film mulai naik—yang diwakili oleh emosi Emad. Ia sangat syok sekaligus marah kepada penyusup yang menyerang istrinya itu, yang ia tidak tahu siapa orangnya. Ia juga menyayangkan kenapa Babak tidak memberitahunya lebih dahulu bahwa perempuan sebelumnya yang menyewa flat tersebut adalah perempuan nakal, sehingga kemungkinan besar pelaku adalah kenalan atau mungkin “langganannya”—hal ini juga dikuatkan oleh keterangan tetangganya yang menyampaikan demikian. Ia juga kesal karena Babak sudah membuat perempuan itu marah karena sudah berani mengeluarkan barang-barang pribadinya. Ia mencurigai perempuan itu yang juga pernah—menurut Babak—mengancam mereka yang menyentuh barang pribadinya, bahwa ia sengaja mengirim orang untuk menyerang mereka sebagai ungkapan kemarahan. Dan itu semua karena ulah Babak.

Emad juga beberapa kali tersulut emosi oleh istrinya yang tidak sepakat untuk melaporkan kejadian itu ke polisi. Istrinya lebih suka untuk melupakan kejadian itu dan segera mencari tempat tinggal baru. Hal ini membuat Emad bertanya-tanya, kenapa Rana tidak mau mencari si pelaku? Ia juga ragu ketika Rana mengatakan bahwa ia tidak sempat melihat wajah pelaku? Pun ketika Rana mengatakan bahwa tidak ada hal lain yang terjadi selain penyerangan tersebut yang membuatnya cedera. Alasan Rana yang merasa trauma, malu dan tidak mau memperpanjang masalah, nampaknya tidak cukup untuk menenangkan Emad. Ia tetap akan mencari pelakunya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, langsung dari mulut pelakunya sendiri.

Pencarian Emad memperoleh titik terang karena pelaku yang buru-buru melarikan diri setelah kejadian itu meninggalkan ponsel dan kunci mobil pick up miliknya. Emad mencari pick up tersebut dan membawanya ke dalam ruang parkir flat, yang sebenarnya sudah penuh dan hal itu membuat penghuni yang lain kesulitan keluar-masuk dengan mobil mereka. Tapi keputusan Emad sudah bulat, ia harus menangkap pelaku tersebut tanpa perlu melibatkan polisi. Kemarahannya juga tumpah di kampus, ia yang biasanya dikenal baik dan disukai oleh para siswanya nampak emosi ketika menyaksikan kebandelan murid-muridnya tersebut.

Cerita film ini kemudian berfokus pada upaya Emad untuk menangkap pelaku penyerangan terhadap istrinya tersebut. Sementara judul “The Salesman” pada film ini diambil dari pertunjukan yang ditampilkan Emad bersama grupnya, yaitu dari naskah drama karangan Arthur Miller yang berjudul “Kematian Seorang Salesman” dan Emad sendiri memerankan tokoh Salesman—tokoh utama.

Jika saya boleh mengkategorikan, maka film-film Asghar adalah jenis yang paling sempurna untuk disebut sebagai sebuah film. Menonton film Asghar, saya sebagai penonton merasa tidak diikutkan—secara eksplisit—ke dalam cerita. Penonton seperti menyaksikan sesuatu (kisah) yang sedang terjadi secara keseluruhan dan rapi, tetapi tetap berjarak dengan tokoh dan cerita di dalamnya. Artinya, meskipun Asghar menghadirkan semua tokohnya dan pikirannya dari berbagai perspektif dan sudut pandang, tetapi penonton—paling tidak saya—tetap tidak bisa yakin dengan apa yang sebenarnya dipikirkan atau diinginkan tiap tokoh. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam cerita.

Berbeda dengan film-film lain—biasanya film komersial—yang dengan terang-terangan “mengajak” penonton untuk terlibat dalam cerita. Dalam film komedi, seringkali tokoh seperti sedang berbicara dengan penonton, dan di film drama seringkali disajikan tokoh-tokohnya menyampaikan dialog-dialog yang terlalu cakep, yang lebih mirip quote untuk menarik perhatian penonton. Atau lebih buruk, untuk menggurui penonton. Kali lain, mereka menampakkan visual yang indah seperti bangunan megah, pemandangan luar biasa atau lanskap yang diambil melalui drone.

Asghar tidak melakukan itu, cerita di dalam film ini mengalir begitu saja dengan struktur yang cukup rapi untuk diikuti. Jika digambarkan dalam diagram, maka intensitas di dalam film-film Asghar pastilah membentuk busur yang menanjak pelan dan kemudian turun cepat. Dialog-dialognya berlangsung wajar, bahkan terkesan hanya untuk menyampaikan cerita. Satu-satunya hal yang bisa dianggap bahwa Asgar berusaha mengikutkan penonton dalam filmnya, adalah melalui sudut pengambilan gambarnya. Ia paham betul bagaimana menampakkan emosi tokoh kepada penonton dengan menggunakan teknik angle gambar yang tepat.

Selesai menonton film ini, penonton akan dibuat bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh para pelakunya? Apakah tiap tokoh berkata jujur selama ini? Apa tujuan mereka melakukan perbuatan tersebut? Apakah karena alasan ketidaksengajaan, khilaf, atau benar-benar bentuk kemarahan, kebencian, atau nafsu? Ada banyak klu yang disajikan Asghar di sana yang kemudian bisa kita jadikan sebagai bahan untuk menganalisanya. Tetapi pada saat itu juga, kita juga akan ragu, benarkah apa yang dikatakan tokoh tersebut? Atau ia (si tokoh) kembali mengarang cerita karena ingin menutupi sesuatu?

Setelah menonton beberapa film Asghar, hal itulah yang selalu saya dapatkan. Bagaimana Asghar menghadirkan ruang terkunci yang menyimpan kebenaran dan membiarkannya begitu saja. Apa yang ia lakukan ini menjadi hal menarik yang memungkinkan cerita untuk tetap hidup di benak penonton. Penonton bertanya-tanya seusai menonton, apa yang sebenarnya terjadi dan imajinasi mereka pun pergi ke berbagai kemungkinan. Bagaimanapun, hal itu menyenangkan untuk direnungkan. Film tersebut seperti memberi oleh-oleh kepada penontonnya untuk dibawa pulang, untuk dipikirkan terus menerus, untuk dihidupkan kembali di benak masing-masing. Sungguh, hanya film bagus yang bisa memberi sensasi seperti itu.

Film ini terpilih sebagai nominator Palm d’Or dalam Cannes Film Festival 2016. Ketika menontonnya pertama kali, saya sempat bertanya-tanya, kenapa film ini tidak mendapat salah satu penghargaan sebagai film terbaik di sana? Alih-alih sebagai Best Screenplay. Bagi saya film ini kuat sekali secara tema dan penyajiannya juga sangat rapi. Tetapi setelah saya menonton ulang, nampaknya saya mulai menemukan satu kekurangan pada film ini. Ya, cuma satu itu. Tepat pada adegan terakhir, ketika Emad bertemu dengan pelaku dan menghubungi keluarga pelaku untuk menjemputnya.

Pada adegan pertemuan mereka, saya tidak menemukan reaksi yang “pas” dari keluarga pelaku ketika bertemu dengannya. Tentu saja ada berbagai macam alasan yang bisa diketengahkan seperti budaya, kedekatan antara mereka dan lain-lain, tapi saya tetap merasa ada yang tidak pas di sana. Ya, adegan tersebut tidak buruk, tidak sama sekali, bahkan bisa dibilang adegan paling menyentuh di film tersebut.

Bagaimanapun, Asgahr tetap memberikan sebuah perspektif yang menarik di sana. Ada kekecewaan, ketakutan dan penyesalan yang kuat sekali pada diri kedua tokoh utama ketika melihat si pelaku jatuh pingsan setelah penyakitnya kambuh. Kalau saja ada sedikit saja pertanyaan atau keraguan dari keluarga pelaku atas apa yang sedang Emad dan Rana lakukan di sana, maka adegan itu akan terasa lebih natural. Tetapi tentu saja penghargaan sebagai Best Screenplay sudah cukup prestisius, sekaligus Best Actor untuk tokoh Eman (diperankan Shahab Hosseini).

Skor film: 8/10

Grup FB KCLK
Halaman FB kami:
Pengurus dan kontributor
Cara mengirim tulisan

 

Tags

Leave a Reply

Close