Film dan BukuRubrik Umum

Memoir of a Murderer (2017), Pertemuan Pembunuh Antargenerasi

Berry Budiman

Memoir of a Murderer (2017), Pertemuan Pembunuh Antargenerasi

Pernahkah Anda menonton film drama kriminal Korea yang berjudul Memories of Murder (2003)—Bong Joon-ho, jika pernah, mungkin Anda akan teringat tentang film itu ketika menonton film ini. Bukan hanya dari judulnya yang mirip, tetapi isinya pun seperti sengaja mengacu kepada beberapa hal dalam film pendahulunya itu. Saya tidak ingat betul setiap detail film Memories of Murder, tapi saya ingat bahwa film itu merupakan salah satu film Korea terbaik yang pernah saya tonton, dan salah satu yang terbaik untuk genre detektif.

Menurut saya, beberapa hal dalam film ini seperti mengacu ke Memories of Murder, antara lain: satu lagu balad (“Sad Letter” dalam Memories of Murder dan “Spring Rain” dalam film ini), “terowongan kereta” dan “pembunuh yang hanya mengincar perempuan”. Tiga hal itu merupakan simbol penting dalam Memories or Murder yang dimunculkan lagi dalam film ini—tentu dengan fungsi yang berbeda. Dugaan saya awalnya, Memoir of Murderer memang dibuat sebagai “penerus kesuksesan” Memories of Murder, atau karena sutradaranya terinspirasi dari film itu. Dengan demikian ia sengaja memberikan beberapa detail pada Memories of Murder sebagai pengakuan atas kualitas film itu, dan sebagai ungkapan terima kasih karena dengan adanya film itulah ia termotivasi untuk membuat Memoir of Murderer.

Tapi benarkah prediksi saya? Ups, ternyata salah. Dua film ini ternyata diangkat dari dua latar belakang yang berbeda, jika Memories of Murder terinspirasi dari kisah nyata pembunuhan berantai yang pernah terjadi antara 1986—1991, maka film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul Murderer’s Guide for Memorization(2013)Kim Young Ha.

Tapi saya tentu tidak mau menyerah begitu saja, meskipun saya tidak pernah membaca novelnya, saya tetap merasa bahwa tiga poin di atas terasa terlalu dipaksakan untuk ada di film ini. Selain itu, kenapa nama film ini tidak sama dengan novelnya saja? Kenapa diganti menjadi Memoir of Murderer yang senada dengan Memories of Murder.

Pertama, tentang lagu balad yang meskipun berbeda judul tapi sama-sama dipakai dalam film ini. Pada Memories of Murder, pelaku selalu memesan lagu balad sebelum melaksanakan aksinya, tetapi pada film ini, penggunaan lagu balad itu terkesan tidak terlalu penting. Tokoh utama yang menderita demensia hanya menyukai lagu itu dan merasa nyaman jika mendengarkannya. Ditambah kecocokan judul lagunya, Spring Rain, pada film ini dengan kebiasaan pembunuh pada Memories of Murder yang hanya mencelakai korbannya ketika hari sedang hujan.

Kedua, “terowongan kereta”, pada Memories of Murder, terowongan kereta menjadi salah satu setting ketika pelaku diburu tokoh utama (pada bagian akhir film), sementara pada film ini, tokoh utama pergi sendirian ke sebuah terowongan karena merasa bahwa musuhnya menunggu di sana (pada awal, kemudian dilanjutkan di paling akhir), padahal tidak ada alasan kenapa ia ke sana. Sejak awal tidak ada area kereta yang disinggung dalam film, artinya setting terowongan kereta ini dimunculkan begitu saja.

Ketiga, “pelaku yang hanya membunuh perempuan”, yang ini sama persis, kedua pelaku pada dua film sama-sama menyerang perempuan, hanya saja motif (pada Memories of Murder bahkan tidak diketahui motifnya) dan cara pembunuhannya tidak sama.

Jadi, begitulah interpretasi saya sebagai penonton terhadap dua film ini yang menurut saya cukup berkaitan. Bahwa film ini seperti ingin mengingatkan penonton pada Memories of Muder, atau bisa juga, film ini sengaja dibuat mirip supaya beroleh lebih banyak perhatian—khususnya dari penggemar Memories of Murder. Lagipula, alasan terakhir itulah yang berlaku pada saya, bahwa saya menonton film ini karena judulnya yang megingatkan saya pada Memories of Murder yang dahsyat itu. Demi mendapat lebih banyak perhatian, penyinggungan ini bisa dilakukan oleh sang sutradara, Won Shin-yun, atau mungkin juga dari si penulis novel sendiri.

Dalam film ini, kedua tokoh utama sama-sama seorang pembunuh, Kim Byeong-soo, seorang mantan pembunuh yang sekarang sudah tua dan punya satu anak perempuan, Kim Eun-hee (diperankan oleh Seol Hyun AOA; yes, that Seolhyun, Man), dan Tae-joo (diperankan oleh Kim Nam Gil), seorang pembunuh berantai yang kemudian perbuatannya diketahui Byeong-soo. Pertemuan mereka didasari oleh kecemasan Byeong-soo—yang memiliki anak gadis—yang menyadari bahwa ada pembunuh berantai yang berkeliaran di kotanya, yang mengincar para perempuan muda. Maka mau tak mau ia harus berhadapan dengan Tae-joo. Pengalamannya sebagai mantan pembunuh membuatnya mampu melacak keberadaan dan memprediksi kebiasaan Tae-joo selama melaksanakan aksinya. Hanya saja, perburuan Byeong-soo terhambat karena demensia yang menyerangnya. Ia mudah melupakan apa-apa yang sudah dan akan ia lakukan, selain itu tubuhnya juga tidak sekuat dahulu ketika ia masih muda.

Tae-joo yang tidak mau perbuatannya terbongkar oleh Byeong-soo, mau tak mau harus membungkamnya. Di luar perkiraan, ia malah menjalin hubungan dengan Eun-hee dan mengubah rencananya: menjebak Byeong-soo. Ia pun merekayasa semuanya supaya Byeong-soolah yang akan dicurigai sebagai pembunuh. Dibanding Memories of Murder, film ini menjelaskan semua motif pembunuhan, baik itu dari tokoh utama maupun antagonis.

Ada tiga hal yang membuat saya sangat menyukai film ini, pertama tentu saja, para pemainnya. Saya tidak bisa menafikkan bahwa peran aktor sangat penting untuk membuat saya mau menonton film. Dalam film ini ada Kim Nam Gil, entah kenapa saya sangat menyukai aktor berusia 36 tahun ini, sebelumnya ia bermain di film bertema gay berjudul No Regret dan saya langsung terkesan dengannya. Meskipun baru satu film itu yang pernah saya tonton, tapi saya tidak bisa menafikkan bahwa saya sangat menyukai sosoknya sebagai aktor. Untuk aktor Korea, saya memang jauh menyukai para aktor gaek ketimbang yang muda, mungkin karena para aktor yang rata-rata berusia di atas 35 ini mulai terlihat berkharisma dan lebih “terasa laki-laki” ketimbang yang muda, haha. Ini sangat subyektif, tapi saya sungguh tidak terkesan dengan para aktor muda Korea. Di mata saya mereka terlihat “lembek”, “tidak garang”, “tak berkharisma”. Apalagi ketika mereka dipaksa memainkan peran “serius” dan “dewasa”, waduh, gak ada keren-kerennya. Nama-nama aktor gaek lain yang saya gemari adalah Jung Woo Sung, Jo In Sung, Gong Yoo, Kang Dong Woon, Le Dong Wook, dan lain-lain. Saya kira hal itu juga dirasakan oleh para sinemawan Korea yang sering menggunakan para aktor gaek itu di dalam drakor—padahal target penontonnya remaja-muda lho. Selanjutnya ada Seol Hyun, yang ini tidak perlu panjang lebar sih, sebagai penggemar Kpop tentu saya tidak bisa melewatkan aksi Seol Hyun di dalam film ini.

Kedua, judul dan temanya yang mengingatkan saya pada Memoris of Murder, dan yang terakhir, ide ceritanya yang menarik. Jika selama ini film tentang pembunuh berantai—seringnya—adalah pertarungan antara polisi/detektif dengan pembunuh, maka di film ini kita menyaksikan pertarungan antara sesama pembunuh. Bagi saya ide itu menarik sekali. Tidak bisa dimungkiri, salah satu alasan kenapa saya mau menyelesaikan tontonan adalah karena idenya menarik. Meskipun, misalnya, eksekusinya dalam film ternyata tidak bagus, akting tokohnya buruk dan banyak lubang dalam cerita, saya masih mungkin menyelesaikan tontonan jika ide ceritanya kadung menarik perhatian saya.

Saya juga mau memuji bagaimana sutradaranya yang mampu menampilkan alur cerita yang kompleks ini dengan sangat mengalir. Transisi-transisinya kadang sangat beralasan dan penonton tidak disajikan adegan maju-mundur yang kasar. Antara kenangan Byeong-soo, masa sekarang, imajinasi maupun kenyataan dipadukan dengan apik. Kemampuan menyajikan cerita yang kompleks ke dalam satu bagan cerita yang mengalir adalah keahlian yang sangat penting bagi seorang pencerita—dalam hal ini sutradara. Dengan begitu penonton tetap merasa bahwa mereka sedang menonton film, bukan sedang dipertontonkan tentang latar belakang cerita—seperti halnya mendengar seorang guru yang mendiktekan sejarah sambil membaca buku.

Akting ketiga tokoh utamanya juga sangat bagus, bahkan pemeran Byeong-soo (Sol Kyung Gu) beroleh aktor terbaik pada ajang Director’s Cut Award. Ajang yang cukup prestisius di Korea karena pernah mengapresiasi nama-nama keren macam Bong Jon Hoo (Snowpiercer) dan Na Hong Jin (The Wailing; salah satu film paling dahsyat sepanjang 2016) sebagai sutradara terbaik.

Film ini juga menyajikan banyak kejutan dan beberapa “bagian kosong” yang menarik untuk dicermati. Bagi yang menyukai twisted ending, menonton film ini pasti akan memuaskan kegemaran kalian. Secara umum film ini sangat menarik, tapi kalau mau dibandingkan dengan Memories of Murder, saya tetap memilih film tahun 2003 itu.

Rating: 8/10

Halaman FB kami

Pengurus dan kontributor

Cara mengirim tulisan

Tags

Tulisan terkait

Close