LubuklinggauPendidikanRubrik UmumTBM Hesti Mora

Belajar Menari Bersama Guru yang Tidak Bisa Menari, Penerapan SOLE

Yuhesti Mora

Belajar Menari Bersama Guru yang Tidak Bisa Menari, Penerapan SOLE

Pagi ini saya merasa beruntung setelah menemukan video Neil Degrasse Tyson di instagram. Ia mengingatkan saya bahwa seorang guru sebaiknya mengajarkan bagaimana berpikir ketimbang mengajarkan apa yang harus dipikirkan.

Ia memberikan dua contoh:

Pertama, dalam kontes mengeja, adalah benar jika seseorang mengeja “cat” (kucing) dengan lafal huruf “c-a-t”. Sedangkan yang mengejanya dengan “k-a-t” adalah salah. Begitu pula dengan yang mengejanya dengan “k-u-t”. Namun “k-u-t” dan “k-a-t” tidak dapat disebut sebagai “salah” yang sama. Setidaknya “k-a-t” lebih baik ketimbang “k-u-t”.

Tapi jika dipandang dari sudut pandang yang lain, barangkali “k-a-t” bisa jadi lebih baik ketimbang “c-a-t”. “k-a-t” adalah bagaimana cara pengucapan “cat” dalam bahasa Inggris. Pola pikir yang kaku telah membentuk kita untuk menetapkan bahwa ini pasti salah dan yang itu pasti benar. Dan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar untuk sebuah pertanyaan. Kita kehilangan pemikiran original kita sendiri. Pola pikir semacam ini pula yang akan meruntuhkan kecerdasan dan orginalitas berpikir anak-anak ketika mereka dewasa.

Saya sepakat dengan apa yang Michio Kaku katakan bahwa setiap orang lahir sebagai saintis. Setiap orang punya rasa ingin tahu terhadap sesuatu, sebelum lingkungan soisal dan sistem berpikir sosial merenggutnya.

Contoh kedua, ada dua orang yang sedang diwawancarai dengan pertanyaan yang sama, berapakah kira-kira tinggi gedung tempat mereka berada saat itu. Orang pertama bisa menjawabnya dengan benar hanya dalam hitungan detik sebab ia adalah lulusan arsitek yang  pernah menghafal ketinggian beberapa gedung. Orang kedua menjawab tidak tahu, namun ia meminta waktu untuk mengukurnya dengan membandingkan rasio bayangan tubuhnya dan bayangan gedung.

Orang pertama menggunakan ingatannya dan orang kedua menggunakan pikirannya. Orang yang berpikir dapat menerapkan cara yang sama untuk mengukur tinggi gedung yang lain, sedangkan orang yang mengingat hanya terbatas pada apa yang ia tahu saja. Sungguh, cara berpikir yang cerdas.

Jika kembali ke belakang, saya merasa sudah melupakan hal itu dan terus saja menjalani kehidupan yang hampa. Saya tidak lagi menikmati aktivitas mengajar yang mana guru menjadi pusatnya, sementara siswa harus mempelajari sesuatu yang sama setiap hari. Ekspresi wajah mereka masih terlalu polos untuk menyembunyikan rasa bosan. Mereka lelah dengan cara belajar yang tidak membuat mereka termotivasi. Kenyataan itu benar-benar menggangu saya.

Sesungguhnya ada banyak cara untuk belajar. Saat ini, nyaris semua hal ada di internet. Semua orang bisa memilih apa yang ingin mereka pelajari dan kepada siapa ia ingin belajar. Karenanya ada banyak metode untuk belajar secara mandiri dan efisien. Permasalahannya, bagaimana membuat siswa mau belajar secara mandiri. Banyak anak-anak yang mengerti internet namun apa yang ia cari di internet seringkali bukanlah sesuatu yang kita harapkan.

Para penggiat pendidikan seperti Sugata Mitra misalnya, mengembangkan metode SOLE (Self Organized Learning Environment). Dalam SOLE, siswa adalah pengajar sekaligus pembelajar, dan guru sebatas memfasilitasi. Metode ini ia coba terapkan untuk mengajarkan anak-anak tentang komputer di lingkungan yang minim pemahaman IT. Ia meletakkan sebuah komputer yang telah dilengkapi dengan internet dalam media yang menyerupai mesin ATM. Anak-anak yang datang dapat memanfaatkan komputer dengan menyentuh layar dan tuas yang berperan sebagai pointer. Tidak jauh dari komputer tersebut, ia memasang CCTV untuk merekam setiap kejadian. Ia biarkan beberapa bulan berlalu dan ketika datang kembali, ia melihat betapa cepat anak-anak di desa itu mengerti cara mengoperasikan komputer-internet.

Suatu hari saya menantang diri saya untuk mengajak siswa-siswa saya di TBM (Taman Baca Masyarakat) belajar bagaimana berpikir dan belajar. Saya tidak mengajar matematika, fisika dan mata pelajaran lainnya karena semua itu sudah saya pahami. Saya ingin menghindari kesan menggurui mereka, dan saya pun memilih pelajaran tari sebagai objek. Menari adalah keterampilan yang tidak pernah secara serius saya pelajari. Saya menantang diri untuk mendorong siswa belajar menari dari seorang guru yang tidak mengerti betul bagaimana menari.

Jadi, bagaimana saya melakukannya? Saya menggunakan formula SOLE. Untuk mempelajari tarian baru, pertama-tama kami mencari tarian apa yang hendak dipelajari. Tentu saja ini adalah proses yang baik untuk menemukan apa yang sama-sama kami sukai. Kita akan lebih banyak belajar dari apa saja yang menarik perhatian kita, bukan? Saya dan mereka berdiskusi tentang apa-apa saja yang membuat tarian itu menarik, entah itu musiknya, busana, tempo, blocking, ekspresi dan gerakan itu sendiri.

Setelah menemukan tarian yang sesuai selera, kami akan menontonnya dan mempelajari gerakannya satu per satu. Karena saat itu adalah pertama kalinya kami menonton video itu, maka video menari itu pun diputar berulang-ulang. Siapa saja yang lebih awal menguasai gerakan tertentu, langsung mempraktikkannya. Yang lain mengamati gerakannya dan mengoreksi beberapa bagian yang kami rasa tidak pas.

Saya perhatikan, setiap siswa menunjukkan level yang berbeda. Ada yang bisa setelah melihat contoh yang ditunjukkan temannya, ada yang lebih memilih belajar dari contoh dalam video, ada pula yang memikirkan sendiri gerakan tari baru untuk mengganti beberapa gerakan yang dirasa tidak cocok atau sulit, dan ada pula yang mulai memikirkan makna dari tiap gerakan. Di antara kami ada yang sudah pernah menari sebelumnya, dan bersama-sama kami saling melengkapi. Sederhananya, saya membutuhkan mereka untuk belajar-dan-mengajar dan mereka membutuhkan saya untuk memberi mereka tantangan, motivasi dan fasilitasi.

Setelah itu, semuanya adalah pengulangan-pengulangan gerakan hingga akhirnya kami dapat mempelajari sebuah tarian baru dengan cukup baik. Mereka pun mampu tampil di pentas dengan percaya diri. Berbeda dengan belajar menari di sanggar, di sini kami belajar bersama-sama dan menemukan cara belajar yang cocok dengan kami. Mereka belajar bagaimana belajar sesuatu. Mereka belajar bagaimana berpikir.

Bagaimana dengan saya?

Saya masih tidak mahir menari. Tetapi pengalaman belajar mengajarkan tarian bersama mereka membuat saya belajar banyak, tentang menari itu sendiri dan tentang bagaimana perilaku belajar anak-anak, sementara mereka bisa pulang dengan membawa keterampilan menari yang baru dari seorang guru yang tidak bisa menari.(*)

Grup FB KCLK
Halaman FB kami:
Pengurus dan kontributor
Cara mengirim tulisan

0
Tags

Tulisan terkait

Leave a Reply

Close